Madrasah Assaulatiyyah Makkah punya kenangan yang sulit dihapus dari memori sejarah. Bahwa selama berdiri, tercatat satu alumni terbaiknya berasal dari Indonesia, Syaikh Zainuddin, yang begitu berpengaruh dan mengesankan. Kesan-kesan itu muncul dari keluarga besar Assaulatiyyah sendiri.
![]() |
| Fhoto Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zaenuddin AM Muda |
Satu contoh Syaikh Damanhuri, padahal beliau tidak pernah bersua dengan Maulanasyaikh. Aneh, tapi bigitu mengenal keagungan Zainuddin, murid dari guru-gurunya di Assaulatiyyah, oleh karena Zainuddin selalu menjadi buah bibir guru-gurunya pada setiap pengajian. Seperti Assyaikh Salim Rahmatullah, Assyaikh Hasan Muhammad Al-Massyat.
Pemuda terbaik, anak emas Assaulatiyyah itu begitu dirasakan hikmahnya sepanjang masa. Begitu Zainuddin pergi, dirasakan Assaulatiyyah hilang kebanggaan. Menara ilmu terasa redup, karena Zainuddin dinilainya sebagai ilmu itu sendiri. Terasa kehilangan yang memacu para guru di Assaulatiyyah menghadapi siswa cerdas semacam beliau.
Jangan kaget, satu pernyataan mengejutkan dari Guru Besar beliau, sekaligus ulama kenamaan dan waliyullah di tanah Suci Makkah. Sampai segitu mendalam kehilangan Zainuddin. Hal itu bisa kita pahami dari qoul beliau sendiri, sebuah statement cinta sekaligus penghormatan. Apa kata beliau tentang Zainuddin murid kesayangannya itu ketika menamatkan sekolahnya dan pulang ke Indonesia?:
ذَهَبَ العِلْمُ
ILMU TELAH PERGI
Meski sudah kurang lebih 85 tahun sudah Maulanasyaikh tamat dari Assaulatiyyah, namun namanya masih menggema dan selalu dikenang.
(Selasa 24 Robiul Akhir 1440 H/1 Januari 2019 M, telaah buku dua Trilogi Cinta Maulana)
Sumber :
Abdul Mannan Marda, http://facebook.com/abdulmananmarda

Comments