Skip to main content

Hujjah tentang Qunût Shubuh, Qunût Witir dan Qunût Nawâzil/Nazilah


Ahibba' Rohimakumullah,


Tema ini  di kutip dalam https://somadmorocco.blogspot.com/search?q=qunut yang diaploud pada hari  Sabtu, 14 Agustus 2010, dengan judul aslinya : " Qunût Shubuh, Qunût Witir dan Qunût Nawâzil/Nazilah " . Dikutip Dari Fatâwa al-Azhar. Juz: 9, halaman: 5, yang  diterjemahkan oleh Prof.Al Ustadz H. Abdul somad, Lc., MA., Ph.D dalam konteks aslinya
sebagai berikut :


القنوت


المفتي الشيخ عطية صقر . مايو 1997
المبادئ: القرآن والسنة

Q u n u t
Mufti: Syekh ‘Athiyyah Shaqar (Ketua Majlis Fatwa al-Azhar Mesir).
Edisi Mei 1997.
Dasar : Al-Qur’an dan Sunnah


 السؤال:
هل القنوت فى الصلاة مشروع ، وإذا كان مشروعا فهل هو فى كل الصلوات ، وهل له صيغة محدودة ؟
Pertanyaan:
Apakah doa Qunut dalam shalat itu disyariatkan? Jika disyariatkan, apakah dalam semua shalat? Adalah lafaz tertentu?
الجواب:
القنوت وهو الدعاء مشروع في الصلوات الخمس عند النوازل ، لحديث ابن عباس رضى اللَّه عنهما : قنت الرسول صلى الله عليه وسلم فى الصلوات الخمس مدة شهر، يدعو على حى من بنى سليم : رعل و ذكوان وعصية ، لأنهم قتلوا بعض الصحابة الذى أرسلهم ليعلموهم .
رواه أبو داود وأحمد ، كما روى البخارى أن النبى صلى الله عليه وسلم كان إذا أراد أن يدعو على أحد أو يدعو لأحد قنت بعد الركوع . وجاء فيه : قال : يجهر بذلك ويقول فى بعض صلاته وفى صلاة الفجر "اللهم العن فلانا وفلانا " حيبن من أحياء العرب ، حتى أنزل اللّه تعالى {ليس لك من الأمر شيء أو يتوب عليهم أو يعذبهم فإنهم ظالمون } آل عمران : 128 .
Jawaban:
Qunut adalah doa, disyariatkan dalam shalat lima waktu ketika terjadi Nawâzil (musibah). Berdasarkan hadits Ibnu Abbas: “Rasulullah Saw membaca doa Qunut dalam shalat lima waktu selama satu bulan. Beliau mendoakan satu kawasan dari Bani Sulaim: Ri’l, Dzakwan dan ‘Ushayyah. Karena mereka telah membunuh sebagian shahabat Rasulullah yang diutus untuk mengajarkan Islam. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa jika Rasulullah Saw ingin mendoakan seseorang (doa tidak baik [laknat] atau doa baik), maka beliau membaca qunut setelah ruku’. Dalam riwayat tersebut disebutkan: Rasulullah Saw membacanya dengan suara keras. Rasulullah Saw mengucapkan doa dalam shalatnya dan dalam shalat Shubuh, “Ya Allah, laknatlah fulan dan fulan”. Dua kawasan di antara beberapa kawasan di tanah Arab. Hingga Allah menurunkan ayat: “128. Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu[227] atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.
[227] Menurut riwayat Bukhari mengenai turunnya ayat ini, karena Nabi Muhammad s.a.w. berdoa kepada Allah agar menyelamatkan sebagian pemuka-pemuka musyrikin dan membinasakan sebagian lainnya”. (Qs. Al ‘Imran [3]: 128).


والقنوت فى الصبح على هذا مشروع عند النوازل كبقية الصلوات ، أما فى غير النوازل فللفقهاء فيه أقوال خلاصتها .

قال الحنفية والحنابلة بعدم مشروعيته ، مستدلين بما رواه ابن حبان وابن خزيمة وصححه عن أنس : أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يقنت فى صلاة الصبح إلا إذا دعا لقوم أو دعا عليهم .

(Qunut Shubuh)

Berdasarkan ini maka doa Qunut pada shalat Shubuh disyariatkan ketika ada Nawazil, sama seperti doa Qunut pada shalat-shalat lainnya. Akan tetapi jika tidak ada Nawazil, maka ada beberapa pendapat para ulama Fiqh. 
Kesimpulannya : Menurut Mazhab Hanafi dan Mazhab Hanbali: doa Qunut Shubuh tidak disyariatkan. Mereka berdalil dengan riwayat Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah dari Anas: sesungguhnya Rasulullah Saw tidak membaca doa Qunut pada shalat Shubuh, kecuali jika beliau mendoakan suatu kaum (doa kebaikan atau doa tidak baik [laknat]).


وقال المالكية والشافعية بمشروعيته . ودليلهم ما رواه الجماعة إلا الترمذى أن أنس بن مالك سثل هل قنت النبي صلى الله عليه وسلم فى صلاة الصبح ؟ فقال : نعم ، ورواه أحمد والبزار و الدارقطنى والبيهقى والحاكم وصححه عن أنس قال : ما زال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم يقنت فى الفجر حتى فارق الدنيا .

Menurut Mazhab Maliki dan Mazhab Syafi’i: doa Qunut Shubuh disyariatkan. Dalil mereka adalah riwayat mayoritas ahli hadits kecuali at-Tirmidzi, bahwa Anas bin Malik ditanya: “Apakah Rasulullah membaca doa Qunut pada shalat Shubuh?”. Beliau menjawab, “Ya”. diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bazzar, ad-Daraquthni, al-Baihaqi dan al-Hakim. Dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim dari Anas bahwa Anas berkata, “Rasulullah Saw terus menerus membaca doa Qunut pada shalat Shubuh hingga beliau meninggal dunia”.

ومناقشة هذه الأدلة وبيان الأرجح من الأقوال يمكن الرجوع إليه فى كتاب "زاد المعاد لابن القيم " الذى بين فى سرده للروايات أن أهل الحديث توسطوا بين من ينكرون القنوت مطلقا حتى فى النوازل وبين من يستحسنونه مطلقا عند النوازل وغيرها ، فهم لا ينكرون على من داوم عليه ولا يكرهونه فعله ، ولا يرونه بدعة ولا فاعله مخالفا للسنة ،كما لا ينكرون على من أنكره عند النوازل ولا يرون تركه بدعة ولا تاركه مخالفا للسنة، بل من قنت فقد أحسن ، ومن تركه فقد أحسن ، وهذا من الاختلاف المباح الذى لا يعنف فيه من فعله ولا من تركه ، وذلك كرفع اليدين في الصلاة وتركه . وأنا أقول : إن الخلاف بسيط ، وهو فى سنة وليس فى فرض ، والدين يسر 

Pembahasan dan penjelasan dalil-dalil dari pendapat-pendapat ini dapat dilihat dalam kitab Zâd al-Ma’âd karya Ibnu al-Qayyim yang menjelaskan beberapa riwayat bahwa para ulama ahli hadits bersikap moderat diantara kelompok yang mengingkari doa Qunut secara mutlak, meskipun ketika ada Nawazil. Dan kelompok yang menganggap baik doa Qunut secara mutlak, baik ketika ada Nawazil maupun ketika tidak ada Nawazil. Para ulama ahli hadits tidak mengingkari orang-orang yang membaca doa Qunut Shubuh secara terus menerus dan tidak pula membenci perbuatan mereka. Para ulama ahli hadits juga tidak menganggapnya bid’ah dan pelakunya tidak dianggap bertentangan dengan Sunnah. Para ulama ahli hadits juga tidak mengingkari orang-orang yang mengingkari doa Qunut ketika ada Nawazil dan tidak menganggap perbuatan mereka itu bid’ah dan bertentangan dengan Sunnah. Siapa yang membaca doa Qunut, maka ia telah berbuat baik dan siapa yang tidak melakukannya juga tidak mengapa. Ini termasuk kategori ikhtilaf yang mubah (dibolehkan) yang tidak perlu bersikap keras terhadap orang yang melakukannya atau tidak melakukannya. Sama seperti masalah mengangkat tangan atau tidak mengangkat tangan dalam shalat.
Saya (Syekh ‘Athiyyah Shaqar) katakan: “Sesungguhnya ikhtilaf dalam masalah ini adalah sederhana. Ini adalah masalah sunnat, bukan dalam masalah fardhu. Dan agama Islam itu memberikan kemudahan”.

هذا وقد روى أحمد وأصحاب السنن عن أبى مالك الأشجعى أنه قال عن قنوت الفجر إنه بدعة ، لأنه صلى خلف النبي وأبى بكر وعمر وعلى فلم يرهم يقنتون ، كما روى الدارقطنى أن ابن عباس كان يقول : إن القنوت فى صلاة الفجر بدعة . ويمكن الجمع بين روايات الإثبات وروايات النفى بأن هؤلاء المروى عنهم كانوا يقنتون أحيانا ولا يقنتون أحيانا أخرى ، لأنه سنة وليس بفرض ولا واجب ، والمثبت مقدم على النافى كما هو معلوم ، وإذا كان بعض الصحابة لم يقنت لأنه لم يره من النبى صلى الله عليه وسلم فإن عدم الرؤية لا يدل على النفى المطلق ، وقد ذكر ابن حزم أن ابن مسعود الذى كان لا يقنت خفى عليه وضع الأيدى على الركب فى الركوع ، وأن ابن عمر الذى لم يحفظه عن أحد من الأصحاب كما رواه البيهقى خفى عليه المسح على الخفين .

Imam Ahmad dan para pengarang kitab as-Sunan meriwayatkan dari Abu Malik al-Asyja’i, ia berkata tentang Qunut Shubuh bahwa Qunut Shubuh itu bid’ah, karena ia shalat di belakang Rasulullah, Abu Bakar dan Umar, ia tidak melihat mereka membaca doa Qunut. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh ad-Daraquthni bahwa Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya Qunut pada shalat Shubuh itu bid’ah”.
Dapat dikombinasikan antara riwayat-riwayat yang menyatakan adanya doa Qunut Shubuh dengan riwayat-riwayat yang menafikan adanya doa Qunut Shubuh. Bahwa mereka yang menjadi sumber riwayat itu, terkadang mereka membaca doa Qunut dan terkadang mereka tidak membaca doa Qunut, karena doa Qunut itu sunnat, bukan fardhu dan wajib. Maka riwayat-riwayat yang menyatakan adanya doa Qunut lebih didahulukan daripada riwayat-riwayat yang menafikannya, sebagaimana diketahui bersama. Jika sebagian shahabat tidak membaca doa Qunut karena tidak melihat Rasulullah Saw membaca doa Qunut. Maka tidak melihat itu tidak berarti menafikan secara mutlak. Ibnu Hazm menyebutkan bahwa Ibnu Mas’ud yang tidak membaca doa Qunut, ia juga tidak mengetahui riwayat tentang meletakkan tangan diatas lutut ketika ruku’. Ibnu Umar yang menyatakan tidak ada doa Qunut dari para shahabat –sebagaimana yang diriwayatkan al-Baihaqi-, ia tidak mengetahui riwayat tentang mengusap sepatu Khuf.

هذا فى قنوت الصبح ، أما فى قنوت الوتر فهو سنة عند الشافعية فى النصف الثانى من شهر رمضان ، أما فى غير ذلك ، فهناك خلاف :
فعند الحنابلة أن القنوت مسنون فى الوتر فى الركعة الواحدة فى جميع السنة، وعند المالكية والشافعية لا يسن ، ووافقهم الحنابلة فى رواية عن أحمد . وعند الحنفية مسنون فى كل أيام السنة،

(Qunut Witir)

Ini tentang Qunut Shubuh. Adapun Qunut Witir, maka menurut Mazhab Syafi’i: Sunnah dilakukan pada paruh kedua bulan Ramadhan. Sedangkan pada selain itu, terdapat beberapa perbedaan pendapat:
Menurut Mazhab Hanbali: Doa Qunut Sunnat Witir dibaca dalam shalat Witir pada rakaat tunggal (terakhir) di sepanjang tahun.
Menurut Mazhab Maliki dan Mazhab Syafi’i tidak sunnat dibaca sepanjang tahun.
Demikian juga menurut Mazhab Hanbali, satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal. Sedangkan menurut Mazhab Hanafi: sunnat dibaca dalam shalat Witir sepanjang tahun.

يقول ابن تيمية فى فتاويه "مجلد 22 ص 264 -269 " . . وأما قنوت الوتر فلعلماء فيه ثلاثة أقوال :
1- قيل لا يستحب بحال ، لأنه لم يثبت عن النبى صلى الله عليه وسلم أنه قنت فى الوتر .
2- قيل : بل يستحب فى جميع السنة كما نقل عن ابن مسعود وغيره، ولأن فى السنن أن النبي صلى الله عليه وسلم علَّم الحسن بن على دعاء يدعو به قنوت الوتر .
3- وقيل بل يقنت فى النصف الأخير من رمضان كما كان أُبى بن كعب يفعل .

Ibnu Taimiah berkata dalam Fatwanya, Jilid: 22, halaman: 264-269. Adapun Qunut Witir, ada tiga pendapat ulama:

  1. Tidak dianjurkan sama sekali. Karena tidak ada riwayat dari Rasulullah Saw bahwa beliau membaca doa Qunut pada shalat Witir.
  2. Dianjurkan sepanjang tahun, sebagaimana dinukil dari Ibnu Mas’ud dan lainnya. Karena dalam beberapa hadits disebutkan bahwa Rasulullah Saw mengajarkan doa yang dibaca dalam Qunut Witir kepada al-Hasan bin Ali.
  3. Doa Qunut Witir dibaca pada paruh kedua bulan Ramadhan, sebagaimana yang dilakukan Ubai bin Ka’ab.

وقنوت النوازل مشروع فى غير صلاة الصبح أيضا قال النووى - وهو شافعى المذهب فيه ثلاثة أقوال ، والصحيح المشهور الذى قطع به الجمهور أنه مشروع فى كل الصلوات ما دامت فيه نازلة ، وإلا فلا، ولم يقل بمشروعيته غيرهم ، ورأى المالكية أنه إن وقع لا تبطل به الصلاة وهو مكروه .
ومحل القنوت بعد الركوع عند الشافعية والحنابلة ، وفى رواية عن أحمد أنه قال : أنا أذهب إلى أنه بعد الركوع ، فإن قنت قبله فلا بأس . والمالكية والحنفية ، يقنتون قبل الركوع .
(Qunut Nazilah/Nawazil)

Qunut Nawazil disyariatkan pada selain shalat Shubuh. Imam Nawawi –Imam dalam Mazhab Syafi’i- berkata: dalam masalah ini ada tiga pendapat. Menurut pendapat yang shahih dan masyhur yang menjadi pegangan Jumhur ulama bahwa doa Qunut Nazilah itu disyariatkan dalam semua shalat, selama terjadi Nazilah. Jika tidak terjadi Nazilah, maka tidak disyariatkan membacanya. Selain mereka tidak menyatakan pensyariatannya. Menurut Mazhab Maliki, jika doa Qunut Nazilah dibaca, shalat tidak batal, akan tetapi hukumnya makruh.
Doa Qunut Nawazil dibaca setelah ruku’, menurut Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali. Dalam satu riwayat dari Imam Ahmad, ia berkata: “Menurut saya, doa Qunut Nawazil dibaca setelah ruku’, jika dibaca sebelum ruku’, maka tidak mengapa”.
Mazhab Maliki dan Mazhab Hanafi membaca Qunut Nawazil sebelum ruku’.

والقنوت عند الشافعية يحصل بأية صيغة فيها دعاء وثناء مثل (اللهم اغفر لى يا غفور) وأفضله :(اللهم اهدنى فيمن هديت ، وعافنى فيمن عافيت ، وتولنى فيمن توليت ، وبارك لى فيما أعطيت ، وقنى شر ما قضيت ، فانك تقضى ولا يقضى عليك ، وإنه لا يذل من واليت ولا يعز من عاديت ، تباركت وتعاليت ) وقد روى عن الحسن بن على رضى اللَّه عنهما أن الرسول صلى الله عليه وسلم علمه إياه ، كما رواه أبو داود والنسائى والترمذى وغيرهم ، وقال الترمذى : حديث حسن ، ولا يعرف عن النبى صلى الله عليه وسلم شيء أحسن من هذا .

Menurut Mazhab Syafi’i: doa Qunut terwujud dengan kalimat apa pun yang mengandung doa dan pujian, seperti:

اللهم اغفر لى يا غفور

“Ya Allah, ampunilah aku wahai Maha Pengampun”.

Doa Qunut yang paling afdhal adalah:

:(اللهم اهدنى فيمن هديت ، وعافنى فيمن عافيت ، وتولنى فيمن توليت ، وبارك لى فيما أعطيت ، وقنى شر ما قضيت ، فانك تقضى ولا يقضى عليك ، وإنه لا يذل من واليت 
ولا يعز من عاديت ، تباركت وتعاليت )

(Ya Allah, berilah hidayah kepadaku seperti orang-orang yang telah Engkau beri hidayah. Berikanlah kebaikan kepadaku seperti orang-orang yang telah Engkau beri kebaikan. Berikan aku kekuatan seperti orang-orang yang telah Engkau beri kekuatan. Berkahilah bagiku terhadap apa yang telah Engkau berikan. Peliharalah aku dari kejelekan yang Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau menetapkan dan tidak ada sesuatu yang ditetapkan bagi-Mu. Tidak ada yang merendahkan orang yang telah Engkau beri kuasa dan tidak ada yang memuliakan orang yang Engkau hinakan. Maka Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Engkau Maha Agung).
Diriwayatkan dari al-Hasan bin Ali bahwa Rasulullah Saw mengajarkan doa ini kepadanya, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Daud, an-Nasa’i, at-Tirmidzi dan lainnya. At-Tirmidzi berkata, “Hadits Hasan. Tidak diketahui ada hadits yang lebih hasan daripada ini diriwayatkan dari Rasulullah Saw”.

ولفظه المختار عند الحنفية كما رواه ابن مسعود وعمر رضى اللَّه عنهما : اللهم إنا نستعينك ونستهديك ونستغفرك ونؤمن بك ونتوكل عليك ، ونثنى عليك ولا نكفرك ، ونخلع ونترك من يفجرك ، اللهم إياك نعبد ولك نصلى ونسجد، وإليك نسعى ونحفد، نرجو رحمتك ونخشى عذابك ، إن عذابك الجد بالكفار ملحق .

Lafaz pilihan menurut Mazhab Hanafi adalah sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud dan Umar:

اللهم إنا نستعينك ونستهديك ونستغفرك ونؤمن بك ونتوكل عليك ، ونثنى عليك ولا نكفرك ، ونخلع ونترك من يفجرك ، اللهم إياك نعبد ولك نصلى ونسجد، وإليك نسعى ونحفد، نرجو رحمتك ونخشى عذابك ، إن عذابك الجد بالكفار ملحق .

(Ya Allah, sesungguhnya kami memohon pertolongan kepada-Mu, memohon hidayah kepada-Mu, memohon ampun kepada-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakkal kepada-Mu, memuji-Mu dan tidak kafir kepada-Mu. Kami melepaskan diri dan meninggalkan orang yang berbuat dosa kepada-Mu. Ya Allah, kepada-Mu kami menyembah, kepada-Mu kami shalat dan bersujud. Kepada-Mu kami bersegera dalam beramal dan berbuat kebaikan. Kami mengharap rahmat-Mu dan takut kepada azab-Mu. Sesungguhnya azab-Mu yang sangat keras menyertai orang-orang kafir).

يقول النووى : يستحب الجمع ين قنوت عمر وما روى عن الحسن ، وإلا فليقتصر على رواية الحسن ، وتسن الصلاة على النبى صلى الله عليه وسلم بعد القنوت

Imam Nawawi berkata: “Dianjurkan menggabungkan antara doa Qunut riwayat Umar dengan doa Qunut riwayat al-Hasan. Jika tidak mampu, maka cukup membaca doa Qunut riwayat al-Hasan. Disunnatkan membaca shalawat kepada nabi setelah membaca doa Qunut.

Bagaimana Fatwa Imam Syafi'i ?

Qunut Shubuh Mazhab Syafi'i

(Dikutip Dari Kitab: Kifâyat al-Akhyâr fi Hall Ghâyat al-Ikhtishâr, Karya: Imam Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Hishni ad-Dimasyqi asy-Syafi’i. Juz: 1, halaman: 114-115).

(كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار، تقي الدين أبو بكر بن محمد الحسيني الحصني الدمشقي الشافعي: جـ: 1، صـ: 114-115).
وأما القنوت فيستحب في اعتدال الثانية في الصبح لما رواه أنس رضي الله عنه قال: {ما زال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقنت في الصبح حتى فارق الدنيا} رواه الإمام أحمد وغيره قال ابن الصلاح: قد حكم بصحته غير واحد من الحفاظ: منهم الحاكم والبيهقي والبلخي قال البيهقي: العمل بمقتضاه عن الخلفاء الأربعة،

Adapun Qunut, maka dianjurkan pada I’tidal kedua dalam shalat Shubuh berdasarkan riwayat Anas, ia berkata: “Rasulullah Saw terus menerus membaca doa Qunut pada shalat Shubuh hingga beliau meninggal dunia”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan imam lainnya. Imam Ibnu ash-Shalah berkata, “Banyak para al-Hafizh (ahli hadits) yang menyatakan hadits ini adalah hadits shahih. Diantara mereka adalah Imam al-Hakim, al-Baihaqi dan al-Balkhi”. Al-Baihaqi berkata, “Membaca doa Qunut pada shalat Shubuh ini berdasarkan tuntunan dari empat Khulafa’ Rasyidin”.

وكون القنوت في الثانية رواه البخاري في صحيحه وكونه بعد رفع الرأس من الركوع فلما رواه الشيخان عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: {لما قنت في قصة قتلى بئر معونة قنت بعد الركوع فقسنا عليه قنوت الصبح} نعم في الصحيحين عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم {كان يقنت قبل الرفع من الركوع} قال البيهقي: لكن رواة القنوت بعد الرفع أكثر وأحفظ فهذا أولى فلو قنت قبل الركوع قال في الروضة: لم يجزئه على الصحيح ويسجد للسهو على الأصح.

Bahwa Qunut Shubuh itu pada rakaat kedua berdasarkan riwayat Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Bahwa doa Qunut itu setelah ruku’, menurut riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa ketika Rasulullah Saw membaca doa Qunut pada kisah korban pembunuhan peristiwa sumur Ma’unah, beliau membaca Qunut setelah ruku’. Maka kami Qiyaskan Qunut Shubuh kepada riwayat ini. Benar bahwa dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah Saw membaca doa Qunut sebelum ruku’. Al-Baihaqi berkata: “Akan tetapi para periwayat hadits tentang Qunut setelah ruku’ lebih banyak dan lebih hafizh, maka riwayat ini lebih utama”. Jika seseorang membaca Qunut sebelum ruku’, Imam Nawawi berkata dalam kitab ar-Raudhah, “Tidak sah menurut pendapat yang shahih, ia mesti sujud sahwi menurut pendapat al-Ashahh”.

 ولفظ القنوت
 {اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت وبارك لي فيما أعطيت وقني شر ما قضيت فإنك تقضي ولا يقضى عليك وإنه لا يذل من واليت تباركت ربنا وتعاليت}
 هكذا رواه أبو داود والترمذي والنسائي وغيرهم بإسناد صحيح أعني بإثبات الفاء في فإنك وبالواو في وإنه لا يذل. قال الرافعي: وزاد العلماء {ولا يعز من عاديت} قبل {تباركت ربنا وتعاليت}، وقد جاءت في رواية البيهقي، وبعده {فلك الحمد على ما قضيت أستغفرك وأتوب إليك}. واعلم أن الصحيح أن هذا الدعاء لا يتعين حتى لو قنت بآية تتضمن دعاء، وقصد القنوت تأدت السنة بذلك،
Lafaz Qunut:

Ya Allah, berilah hidayah kepadaku seperti orang-orang yang telah Engkau beri hidayah. Berikanlah kebaikan kepadaku seperti orang-orang yang telah Engkau beri kebaikan. Berikan aku kekuatan seperti orang-orang yang telah Engkau beri kekuatan. Berkahilah bagiku terhadap apa yang telah Engkau berikan. Peliharalah aku dari kejelekan yang Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau menetapkan dan tidak ada sesuatu yang ditetapkan bagi-Mu. Tidak ada yang merendahkan orang yang telah Engkau beri kuasa. Maka Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Engkau Maha Agung”.

Demikian diriwayatkan oleh Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan lainnya dengan sanad sahih. Maksud saya, dengan huruf Fa’ pada kata: فإنك dan huruf Waw pada kata: وإنه لا يذل.
Imam ar-Rafi’i berkata: “Para ulama menambahkan kalimat: ولا يعز من عاديت (Tidak ada yang dapat memuliakan orang yang telah Engkau hinakan). Sebelum kalimat: تباركت ربنا وتعاليت (Maka Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Engkau Maha Agung).

Dalam riwayat Imam al-Baihaqi disebutkan, setelah doa ini membaca doa:


فلك الحمد على ما قضيت أستغفرك وأتوب إليك

(Segala puji bagi-Mu atas semua yang Engkau tetapkan. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).
Ketahuilah bahwa sebenarnya doa ini tidak tertentu. Bahkan jika seseorang membaca Qunut dengan ayat yang mengandung doa dan ia meniatkannya sebagai doa Qunut, maka sunnah telah dilaksanakan dengan itu.

ويقنت الإمام بلفظ الجمع بل يكره تخصيص نفسه بالدعاء لقوله صلى الله عليه وسلم {لا يؤم عبد قوماً فيخص نفسه بدعوة دونهم فإن فعل فقد خانهم} رواه أبو داود والترمذي وقال: حديث حسن، ثم سائر الأدعية في حق الإمام كذلك أي يكره له إفراد نفسه صرح به الغزالي في الإحياء وهو مقتضى كلام الأذكار للنووي.

Imam membaca Qunut dengan lafaz jama’, bahkan makruh bagi imam mengkhususkan dirinya dalam berdoa, berdasarkan sabda Rasulullah Saw: “Janganlah seorang hamba mengimami sekelompok orang, lalu ia mengkhususkan dirinya dengan suatu doa tanpa mengikutsertakan mereka. Jika ia melakukan itu, maka sungguh ia telah mengkhianati mereka”. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan at-Tirmidzi. Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan”. Kemudian demikian juga halnya dengan semua doa-doa, makruh bagi imam mengkhususkan dirinya saja. Demikian dinyatakan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin. Demikian juga makna pendapat Imam Nawawi dalam al-Adzkar.

 والسنة أن يرفع يديه ولا يمسح وجهه لأنه لم يثبت قاله البيهقي ولا يستحب مسح الصدر بلا خلاف بل نص جماعة على كراهته قاله في الروضة. ويستحب القنوت في آخر وتره وفي النصف الثاني من رمضان كذا رواه الترمذي عن علي رضي الله عنه وأبو داود عن أبي بن كعب، وقيل يقنت كل السنة في الوتر قاله النووي في التحقيق فقال: إنه مستحب في جميع السنة، قيل يقنت في جميع رمضان، ويستحب فيه قنوت عمر رضي الله عنه ويكون قبل قنوت الصبح قاله الرافعي وقال النووي: الأصح بعده لأن قنوت الصبح ثابت عن النبي صلى الله عليه وسلم في الوتر فكان تقديمه أولى، والله أعلم.

Sunnah mengangkat kedua tangan dan tidak mengusap wajah, karena tidak ada riwayat tentang itu. Demikian dinyatakan oleh al-Baihaqi. Tidak dianjurkan mengusap dada, tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini. Bahkan sekelompok ulama menyebutkan secara nash bahwa hukum melakukan itu makruh, demikian disebutkan Imam Nawawi dalam ar-Raudhah. Dianjurkan membaca Qunut di akhir Witir dan pada paruh kedua bulan Ramadhan. Demikian diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Imam Ali dan Abu Daud dari Ubai bin Ka’ab. Ada pendapat yang mengatakan dianjurkan membaca Qunut pada shalat Witir sepanjang tahun, demikian dinyatakan Imam Nawawi dalam at-Tahqiq, ia berkata: “Doa Qunut dianjurkan dibaca (dalam shalat Witir) sepanjang tahun”. Ada pendapat yang mengatakan bahwa doa Qunut dibaca di sepanjang Ramadhan. Dianjurkan agar membaca doa Qunut riwayat Umar, sebelum Qunut Shubuh, demikian dinyatakan oleh Imam ar-Rafi’i. Imam Nawawi berkata, “Menurut pendapat al-Ashahh, doa Qunut rirwayat Umar dibaca setelah doa Qunut Shubuh. Karena riwayat Qunut Shubuh kuat dari Rasulullah Saw pada shalat Witir. Maka lebih utama untuk diamalkan.

Dalil Qunut Shubuh berdasarkan Hadist Shahih 

واحتج اصحابنا بحديث انس رضى الله عنه: أن النبي صلي الله تعالي عليه وسلم قنت شهرا يدعوا عليهم ثم ترك فأما في الصبح فلم يزل يقنت حتى فارق الدنيا. حديث صحيح رواه جماعة من الحفاظ وصححوه وممن نص علي صحته الحافظ أبو عبد الله محمد بن علي البلخى والحاكم أبو عبد الله في مواضع من كتبه والبيهقي ورواه الدار قطني من طرق بأسانيد صحيحة.

Para ulama Mazhab Syafi’i berdalil dengan Hadits Anas, bahwa Rasulullah Saw membaca Qunut selama satu bulan mendoakan orang-orang musyrik (yang membunuh shahabat Rasulullah Saw agar dibalas Allah Swt). Kemudian Rasulullah Saw berhenti (melakukannya). Sedangkan pada shalat Shubuh, beliau tetap membaca Qunut hingga beliau meninggal dunia.

Ini adalah hadits shahih, diriwayatkan oleh sekelompok ulama hadits dari kalangan para al-Hafizh, mereka nyatakan sebagai hadits shahih. Diantara ulama yang menyatakan bahwa hadits ini shahih adalah al-Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin Ali al-Balkhi, Imam al-Hakim Abu Abdillah di beberapa tempat dalam kitabnya dan Imam al-Baihaqi. Disebutkan oleh Imam ad-Daraquthni lewat beberapa jalur periwayatan dengan sanad-sanad yang shahih.

وعن العوام بن حمزة قال: سألت أبا عثمان عن القنوت في الصبح قال: بعد الركوع قلت: عمن؟ قال: عن أبى بكر وعمر وعثمان رضي الله تعالي عنهم. رواه البيهقي وقال هذا إسناد حسن.

Dari al-‘Awwam bin Hamzah, ia berkata: “Saya bertanya kepada Abu Utsman tentang doa Qunut pada shalat Shubuh”. Ia menjawab, “Dibaca setelah ruku’”. Saya bertanya kepadanya, “Dari siapa?”. Ia menjawab, “Dari Abu Bakar, Umar dan Utsman”. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi, ia berkata, “Sanadnya hasan”.

ورواه البيهقى عن عمر أيضا من طرق وعن عبد الله بن معقل - بفتح الميم وإسكان العين المهملة وكسر القاف - التابعي قال " قنت علي رضى الله عنه في الفجر " رواه البيهقى وقال هذا عن علي صحيح مشهور.

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Umar, dari beberapa jalur periwayatan, dari Abdullah bin Ma’qil seorang tabi’in, ia berkata, “Imam Ali bin Abi Thalib membaca doa Qunut pada shalat Shubuh”. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi, ia berkata, “Ini dari Imam Ali, shahih masyhur”.

وعن البراء رضى الله تعالى عنه: أن رسول الله صلي الله عليه وسلم كان يقنت في الصبح والمغرب. رواه مسلم ورواه أبو داود وليس في روايته ذكر المغرب ولا يضر ترك الناس القنوت في صلاة المغرب لانه ليس بواجب أو دل الاجماع على نسخه فيها.

Dari al-Barra’: sesungguhnya Rasulullah Saw membaca doa Qunut pada shalat Shubuh dan shalat Maghrib. Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Juga diriwayatkan oleh Imam Abu Daud tanpa menyebutkan shalat Maghrib. Doa Qunut tidak dibaca lagi dalam shalat Maghrib karena doa Qunut dalam shalat Maghrib tersebut tidak wajib dan menurut Ijma’ ulama hukum membaca doa Qunut dalam shalat Maghrib telah dinasakh (mansukh).

وأما الحواب عن حديث أنس وأبى هريرة رضي الله عنهما في قوله ثم تركه فالمراد ترك الدعاء على أولئك الكفار ولعنتهم فقط، لا ترك جميع القنوت أو ترك القنوت في غير الصبح وهذا التأويل متعين لان حديث أنس في قوله: لم يزل يقنت في الصبح حتى فارق الدنيا. صحيح صريح فيجب الجمع بينهما وهذا الذى ذكرناه متعين للجمع وقد روى البيهقي باسناده عن عبد الرحمن بن مهدي الامام انه قال: انما ترك اللعن ويوضح هذا التأويل رواية أبي هريرة السابقة وهي قوله: ثم ترك الدعاء لهم.

(Beberapa Jawaban Imam Nawawi Terhadap Riwayat-Riwayat Yang Menyebutkan Bahwa Rasulullah Saw Tidak Membaca Doa Qunut Pada Shalat Shubuh).

Adapun jawaban terhadap hadits Anas dan Abu Hurairah, tentang makna kalimat:


ثم تركه

Kemudian Rasulullah Saw meninggalkannya”. Maksudnya adalah Rasulullah Saw tidak lagi membacakan doa dan laknat terhadap orang-orang kafir. Bukan berarti meninggalkan doa Qunut secara keseluruhan. Atau makna lain: Rasulullah Saw meninggalkan doa Qunut dalam shalat lain selain shalat Shubuh. Demikian takwil yang sesuai, karena hadits Anas menyebutkan: Rasulullah Saw terus membaca doa Qunut hingga meninggal dunia. Shahih dan jelas, maka kedua hadits ini mesti dikombinasikan. Makna yang telah kami sebutkan merupakan kombinasi antara kedua hadits tersebut. Imam al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Imam Abdurrahman bin Mahdi bahwa ia berkata, “Rasulullah Saw hanya meninggalkan laknat (terhadap orang-orang kafir)”. Penakwilan ini dijelaskan oleh riwayat Abu Hurairah diatas yang menyatakan:


ثم ترك الدعاء لهم

Kemudian Rasulullah Saw meninggalkan doa terhadap mereka”.

والجواب عن حديث سعد بن طارق أن رواية الذين اثبتوا القنوت معهم زيادة علم وهم أكثر فوجب تقديمهم.

Jawaban terhadap hadits Sa’ad bin Thariq bahwa riwayat yang menetapkan adanya Qunut (Shubuh) merupakan pengetahuan tambahan. Riwayat yang menetapkan adanya Qunut (Shubuh) lebih banyak, maka wajib untuk didahulukan.

وعن حديث ابن مسعود أنه ضعيف جدا لانه من رواية محمد بن جابر السحمى وهو شديد الضعف متروك. ولانه نفي وحديث أنس إثبات فقدم لزيادة العلم

Jawaban terhadap hadits Ibnu Mas’ud, hadits tersebut adalah hadits Dha’if Jiddan, karena diriwayatkan oleh Muhammad bin Jabir as-Sahmi, statusnya sangat dha’if matruk. Karena haditsnya menafikan Qunut (Shubuh) sedangkan hadits Anas menetapkan adanya Qunut (Shubuh), maka hadits yang menetapkan adanya Qunut (Shubuh) lebih didahulukan karena adanya pengetahuan tambahan.

وحديث ابن عمر أنه لم يحفظه أو نسيه وقد حفظه أنس والبراء بن عازب وغيرهما فقدم من حفظ

Jawaban terhadap hadits Ibnu Umar, ia tidak mengingatnya, atau ia lupa. Akan tetapi Anas, al-Barra’ bin ‘Azib dan yang lain mengingatnya. Maka riwayat yang mengingat lebih didahulukan.

وعن حديث ابن عباس أنه ضعيف جدا وقد رواه البيهقى من رواية أبى ليلي الكوفى وقال هذا لا يصح وابو ليلى متروك وقد روينا عن ابن عباس: انه قنت في الصبح.

Jawaban terhadap hadits Ibnu Abbas, hadits tersebut adalah hadits dha’if jiddan (sangat lemah). Disebutkan oleh al-Baihaqi dari riwayat Abu Laila al-Kufi, ia berkata, “Tidak shahih. Status Abu Laila adalah Matruk. Telah kami riwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia membaca Qunut pada shalat Shubuh.

وعن حديث أم سلمة انه ضعيف لانه من رواية محمد بن يعلي عن عنبسة بن عبد الرحمن عن عبد الله بن نافع عن ابيه عن ام سلمة قال الدار قطني هؤلاء الثلاثة ضعفاء ولا يصح لنافع سماع من ام سلمة والله اعلم.

Jawaban terhadap hadits Ummu Salamah, hadits tersebut adalah hadits dha’if, karena diriwayatkan oleh Muhammad bin Ya’la dari ‘Anbasah bin Abdirrahman, dari Abdillah bin Nafi’, dari Bapaknya, dari Ummu Salamah. Ad-Daraquthni berkata, “Ketiga perawi ini dha’if. Tidak benar bahwa Nafi’ mendengar hadits tersebut dari Ummu Salamah”. Wallahu a’lam.

(المجموع شرح المهذب للنووي: جـ 3، صـ 505).

Dari kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi, juz: 3, halaman: 505.

Comments

Unknown said…
Qunut memang shohih adapun khilafiah yg muncul kalangan umat islam sebagai rahmatan lil alamin

Popular posts from this blog

Refleksi Pemikiran cerdas Prof.Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, MA untuk NTB

Bismillahirrohmaanirrohiim, Ikhwanufillah…. Intergrasi berzikir, fikir dan ikhtiar dalam bentuk karya merupakan refleksi bangkit dan terlahirnya 61 Provinsi NTB. Hal inilah kanda Prof. Dr.TGH. Fahrurrozi, MA dalam tulisannya di akun FBnya dengan diksi-diksi yang menarik dengan literasi mendalam beliau menukilkan dalam judul aslinya… BANGGA MENJADI WARGA NTB: “Jika” NTB BERZIKIR, NTB BERPIKIR, NTB MENGUKIR: REFLEKSI 61 TAHUN NTB LAHIR sumber gambar :  https://www.google.com/search?q=Gambar+Peta+NTB&newwindow=1&safe=strict&rlz=1C1CHBF_enID840ID840&sxsrf=ACYBGNRE8lH68GlxSMtTSgjf_ O5JV5jIOA:1576601741530&tbm=isch&source=iu&ictx=1&fir=di97UKuqlocxUM%253A%252ChTyXExZWSt5PpM%252C_&vet=1&usg=AI4_-kQWLMOKYDJ6av-qM1bq77XVSYxo5Q&sa=X&ved=2ahUKEwji-oWWk73mAhVEX30KHRuxDrUQ9QEwCXoECAoQFg#imgrc=di97UKuqlocxUM: dalam tulisannya beliau melanjutkan  ……            ...

Manaqib Al-Marhum Guru Anan Sang Perintis Sistem Pengajian Tradisional Lendang Nangka

Sumber : Fhoto Dokumentasi Majelis  2015 1. RIWAYAT DAN SILSILAH KELUARGA USTADZ ABDUL HANNAN (GURU ANAN)           Tokoh sederhana yang tidak mau disebut sebagai Tokoh seperti ungkapan tawadlu’ beliau sering mengungkapkan : “ Tiyang mniki  Goro bukan Guru yang Istimewa  (( Dalam Bahasa Sasak :  tiyang niki goro nententen guru atau kiyai sak berilmu ) ) “ sehingga sebagian masyarakat Lendang Nangka yang memberi sebutan “ Guru Tawadlu' nan Bagus (Guru Annan Bagus)”

NASIHAT SYAIKH AHMAD SYIHABUDDIN BIN SALAMAH ALQALYUBY: LIMA TERSEMBUNYI DALAM LIMA HAL

Ikhwanufillah.... Majelis Alhannan kali ini berbagi tentang Nasehat dan telaah berkitab dari Prof. Dr.TGH. Fahrurrozi, MA, beliau mengutip dalan tulisannya : إعلم أن الله تعالى أخفى خمسة أشياء فى خمسة أشياء: ١-أخفى رضاه فى طاعة من الطاعات ليجتهد الناس فى جميع الطاعات رجاء ان يصادفوها. ٢-وأخفى سخطه فى معصية من المعاصى ليجتنبها الناس كلما خشية الوقوع فيه ٣-وأخفى ليلة القدر فى رمضان ليجتهد الناس فى إحياء لياليه أن يصادفوها ٤-وأخفى اسمه الاعظم فى جميع اسماءه ليجتهد الناس فى الدعاء بجميعها رجاء ان يصادفوه. ٥-وأخفى أولياءه فى جميع خلقه حتى لا يحتقروا احدا منهم ويطلبون الدعاء منهم رجاء ان يصادفوه بحصول بركته بدعاءه. (نقلت من كتاب النوادر تأليف احمد شهاب الدين بن سلامة القليوبى ص:١١٩) (وأخفى صلاة الوسطى من بين سائر الصلوات، ليجتهد العبد في المحافظة على الصلوات، كما قال سيدنا عمر بن الخطاب رضي الله عنه وأخفي الأجل من بين العمر، ليستعد الناس له) Ketahuilah sesungguhnya Allah merahasiakan lima hal dalam lima hal: Pertama: Allah swt merahasiakan redhaNya dalam berbuat ketaataan de...