Ahibba’ Rohimakumullah ….
Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menjelaskan tentang Mukjizat Mi’raj, sebagiamana di kutip dalam https://islam.nu.or.id dengan tema pokok : “ Mukjizat Mi’raj Tidak Berarti Allah di Atas” yang di share pada hari Kamis, 19/03/2020, bahwa mukjizat yang agung ini tidak menunjukkan Allah di atas, karena kesepakatan para ulama menyatakan bahwa Allah ada tanpa membutuhkan kepada arah dan tempat, Allah ada tanpa tempat.
Sebagaimana Firman Allah Swt.
“ Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya[847] agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”
[847] Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.
Mukjizat Isra’ telah disebutkan dalam Al-Qur’an secara tegas dan eksplisit. Oleh karenanya, barangsiapa mengingkari Isra’, maka ia telah mendustakan Al-Qur’an. Sedangkan Mi’raj, Al-Qur’an tidak menyebutkannya secara sharih dan eksplisit, akan tetapi menyatakannya dengan keterangan yang mendekati nash yang sharih (eksplisit). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى (١١) أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى (١٢) وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (١٣) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (١٤) (النجم: ١١-١٤)
“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kalian (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha” (QS an-Najm: 11-14).
lanjutkan membaca
Para ulama Ahlussunnah mengungkapkan: Barangsiapa mengingkari mukjizat Mi’raj karena ketidaktahuannya tentang adanya Mi’raj dalam syara’, maka ia tidak kafir, akan tetapi dihukumi fasiq, karena Al-Qur’an tidak menyebutkan Mi’raj secara eksplisit.
Berbeda dengan Mukjizat Isra’ yang disebutkan secara eksplisit. Sedangkan seseorang yang mengingkari Mi’raj dengan maksud menentang ajaran agama, maka ia tidak lagi tergolong kaum muslimin.
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi imam shalat bagi para nabi di Baitul Maqdis, maka Rasulullah dibawa naik ke langit. Jibril pun meminta dibukakan pintu langit dan dikatakan kepadanya: Siapa anda? Jibril menjawab: Jibril. Ditanyakan: Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Ditanyakan lagi: Apakah ia telah diutus untuk Mi’raj ke langit? Jibril menjawab: Iya, ia telah diutus untuk Mi’raj. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits yang panjang: “Lalu pintu langit pertama dibuka untuk kami. Ternyata sudah ada Nabi Adam di sana. Ia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril bersamaku naik ke langit kedua, lalu ia meminta dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: Siapa anda? Jibril menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Ditanya lagi: Apa sudah saatnya Muhammad dimi’rajkan? Jibril menjawab: Iya, sudah saatnya dimi’rajkan. Lalu pintu langit kedua dibuka untuk kami. Ternyata sudah ada dua nabi bersaudara sepupu di sana, yaitu Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariyya ‘alaihimassalam. Keduanya menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.”
Demikianlah, Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berpindah dari satu langit ke langit berikutnya. Di langit ketiga, beliau bertemu dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang telah dikaruniai ketampanan yang luar biasa. Di langit keempat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan Nabi Idris ‘alaihissalam. Nabi Yusuf dan Nabi Idris ‘alaihimassalam juga mendoakan kebaikan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian di langit kelima Nabi bertemu dengan Nabi Harun ‘alaihissalam, di langit keenam bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam, dan di langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang menyandarkan punggungnya ke al-Bait al-Ma’mur.
Al-Bait al-Ma’mur adalah bangunan yang mulia tempat thawaf bagi para malaikat yang merupakan penghuni langit sebagaimana Ka’bah adalah tempat thawaf bagi para penghuni bumi. Setiap harinya, al-Bait al-Ma’mur dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat untuk melakukan shalat di sana lalu keluar dan tidak kembali ke sana selamanya. Begitu seterusnya sampai hari kiamat. Setelah itu Jibril membawa Nabi naik hingga ke Sidratul Muntaha.
Bertemu Allah Ta'ala bukan hal biasa
Ketika Nabi Muhammad SAW mengetuk pintu langit langsung dibukakan. Namun, ketika Rasulullah mengetuk pintu Sidratul Muntaha dengan kalimat "Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh", salam beliau tidak dijawab dan pintu tidak dibuka. Rasulullah pun menangis dan berkata kepada Malaikat Jibril, "apa salahku wahai Jibril?"
Lalu Malaikat Jibril berkata bahwa Dia (Allah Ta'ala) itu As-Salam. Rasulullah pun tersadar dan bertaubat kepada Allah Ta'ala. Lalu Rasulullah bertanya bagaimana aku memberikan salam? Kemudian Allah mengajarkan beliau dengan ucapan yang sangat indah:
"Segala kehormatan, dan keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu kepunyaan Allah."
Itulah kalimat Rasulullah mengetuk pintu 'Arsy. Barulah kemudian Allah 'Azza wa Jalla menjawab:
السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
"Keselamatan atas Nabi Muhammad, juga rahmat dan berkahnya."
Kemudian Rasulullah SAW menjawabnya:
السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
"Keselamatan dicurahkan kepada kami dan atas seluruh hamba Allah yang saleh."
Rasulullah mengatakan meskipun aku sendirian menghadap-Mu, para Nabi dan Malaikat mengantarku, akankah mereka mendapatkan apa yang aku dapatkan?
السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
"Keselamatan dicurahkan kepada kami dan atas seluruh hamba Allah yang saleh."
Apakah umatku yang tertinggal di dunia juga mendapatkan salam itu? Masya Allah, sudah sampai kepada Allah, Nabi SAW masih kepikiran umatnya. Begitulah besarnya cinta Rasulullah kepada umatnya. Namun tidak semua mendapat berkah ucapan itu, kecuali hanya umat Nabi yang menjadi hamba saleh yang dicurahkan keselamatan.
Untuk menjadi hamba Allah yang saleh syaratya harus salat. Tidak ada orang yang membaca tahiyat kecuali salat. Maka perbaikilah salat dan sempurnakanlah ia agar menjadi hamba yang saleh.
Salat itu bertemu Allah Ta'ala. Apa yang dikerjakannya merasa dilihat Allah Ta'ala itu sudah Mi'raj. Sembahlah Tuhanmu seolah-olah engkau melihatnya dan yakinlah Allah Ta'ala melihatmu.
وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّہَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَـٰشِعِينَ
"Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Dan sesungguhnya hal itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu (merendahkan diri)." (QS. Al-Baqarah: 46)
Salat itu memang berat kecuali bagi orang yang khusyu', yaitu yang dalam salatnya ia merasa ketemu Robbnya. Kalau tidak salat itu tidak Mi'raj. Dari rumah ke masjid itu artinya isra'. Mi'rajnya Allah gambarkan dengan 1 raka'at salat kita.
Peristiwa melewati 7 lapis langit ini mengandung hikmah bahwa manusia melakukan 7 gerakan salat. Setiap lapis langit itulah penghormatan kita kepada Allah Ta'ala atau kepada yang dilalui Rasulullah SAW.
Saat tahiyat akhir di situlah kalimat yang digunakan Rasulullah untuk mengetuk pintu 'arsy. Abdun itu artinya menghamba yang di dalamnya ada dua unsur, ruh dan jasad harus dihadirkan. Maka tidak diterima orang yang salat ruhnya ke mana-mana. Apalagi kalau sebelum shalat di hati ada dendam kepada orang lain.
"Kita akan dianggap Abdun oleh Allah apabila kita merendahkan diri serendah-rendahnya saat salat. Allah tidak akan menerima salat orang yang tidak melepaskan apa yang menempel pada dirinya. Allahu akbar itu adalah kalimat untuk memutus kesombongan kita," kata Kiyai Kiyai Naziri Alfansuri.
Apa yang kita baca saat Tahiyat adalah dialog Rasulullah SAW dengan Allah Ta'ala.
الصَّلاَةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِيْنَ
"Salat itu adalah Mi'raj bagi orang-orang yang beriman."
Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang sangat besar nan indah menakjubkan, daun-daunnya lebar seukuran telinga gajah dan buah-buahnya besar seperti qullah (gentong). Akarnya berada di langit keenam dan menjulang tinggi sampai mencapai atas langit ketujuh.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya sewaktu beliau berada di atas langit ketujuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan: “Tidak seorang pun di antara makhluk Allah yang mampu menyifati Sidratul Muntaha saking indahnya.
Kemudian Allah mewahyukan kepadaku beberapa hal: Allah wajibkan kepadaku 50 kali shalat dalam sehari semalam, lalu aku turun menemui Nabi Musa. Ia bertanya: Apa yang Allah wajibkan kepada ummatmu? Aku menjawab: 50 kali shalat. Musa berkata: Kembalilah ke tempat yang di sana engkau menerima wahyu dan berdoalah meminta keringanan kepada Allah, karena ummatmu tidak akan mampu melakukannya, aku telah memiliki pengalaman dengan Bani Israil tentang hal semacam ini.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke tempat semula dan meminta keringanan kepada Allah seraya berkata:
رَبِّ خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي يَا
“Ya Allah berilah keringanan untuk ummatku.”
Nabi bersabda: “Maka Allah mengurangi menjadi lima shalat. Lalu aku kembali kepada Nabi Musa dan aku berkata: Allah mengurangi menjadi lima shalat untukku. Musa berkata: Umatmu tidak akan mampu melakukan itu, maka mintalah kembali kepada-Nya keringanan.” Maka Nabi pun beberapa kali memohon keringanan kepada Allah hingga Allah mewahyukan kepadanya kewajiban shalat lima kali sehari semalam, setiap shalat terhitung pahalanya seakan-akan sepuluh shalat, sehingga totalnya menjadi lima puluh shalat.
Allah juga mewahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa barangsiapa berkeinginan melakukan satu kebaikan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka dihitung satu kebaikan, dan jika dia mengerjakannya dihitung sepuluh kebaikan. Dan barangsiapa berkeinginan melakukan keburukan dan tidak mengerjakannya maka tidak dicatat sebagai keburukan, jika dia mengerjakannya maka dihitung satu keburukan.
Saudara-saudara seiman, Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa maksud dan tujuan dari Mi’raj adalah memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memperlihatkan kepada beliau keajaiban-keajaiban di alam atas, seperti langit, al-Bait al-Ma’mur, Sidratul Muntaha, ‘Arsy, surga dan lain-lain, dan mengagungkan derajat beliau.
Sangat penting ditegaskan bahwa peristiwa Mi’raj tidak berarti sampainya Nabi ke sebuah tempat yang Allah berada di sana. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah bertemu dan berkumpul dengan Allah seperti bertemunya makhluk dengan makhluk, karena Allah Mahasuci dari tempat, arah dan ruang. Allah bukan jism (sesuatu yang memiliki panjang, lebar dan kedalaman) dan Allah tidak menyerupai sesuatu pun di antara makhluk-Nya sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala tegaskan:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (الشورى: ١١)
Maknanya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS asy-Syura: 11)
Adalah termasuk keliru jika ada cerita-cerita yang menyatakan bahwa Allah mendekat kepada Muhammad hingga berjarak satu hasta atau bahkan lebih dekat. Kisah-kisah semacam ini sangat bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Sedangkan ayat 8 dan 9 dari surat an-Najm:
ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى (٨) فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى (٩) (النجم: ٨-٩)
Tidak boleh dimaknai bahwa Allah-lah yang mendekat kepada Muhammad hingga jaraknya seukuran dua busur panah atau lebih dekat. Makna ayat tersebut sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih Muslim dari Sayyidah Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa yang mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat Mi’raj adalah Jibril, bukan Allah subhanahu wa ta’ala. Kita tidak boleh menyifati Allah dengan sifat berjarak dekat atau pun jauh, karena berjarak dengan sesuatu yang lain adalah termasuk salah satu sifat makhluk yang menunjukkan tempat dan arah tertentu. Padahal para ulama kita selalu menjelaskan bahwa Allah Mahasuci dari semua tempat dan arah, berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin seperti ditegaskan oleh Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam karyanya, al-Farq baina al-Firaq:
وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّهُ لَا يَحْوِيْهِ مَكَانٌ
“Kaum muslimin menyepakati bahwa Allah ta’ala tidak diliputi oleh tempat.”
Hadlratusy Syaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari menegaskan dalam mukadimah kitab at-Tanbihat al-Wajibat:
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ
“Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia Mahasuci dari berbentuk (berjisim), arah, masa dan tempat.”
Wallahua'lam
Sumber:
https://islam.nu.or.id/post/read/117978/mukjizat-mi-raj-tidak-berarti-allah-di-atas
https://kalam.sindonews.com/read/1562302/69/isra-mikraj-dan-kisah-nabi-melewati-7-lapis-langit-1584641426
Comments