Skip to main content

Hukum Wanita Istihadhah Berpuasa

Kaum Muslimin Rohimakumullah, Syaikhuna Al Ustadz Abdul Shomad, Lc., M.A., Ph.D mengungkapkan :

Wanita Istihadhah Boleh Puasa? (1)

Dikutip Dari Kitab Fiqh Sunnah, Karya Syekh Sayyid Sabiq,
juz: 1, halaman: 86 – 89.

(3) أحكامها: للمستحاضة أحكام نلخصها فيما يأتي:
(3) Beberapa hukum bagi wanita yang mengalami istihadhah, kami ringkas sebagai berikut. (2)

ا - أنه لا يجب عليها الغسل لشئ من الصلاة ولا في وقت من الاوقات إلا مرة واحدة، حينما ينقطع حيضها.
وبهذا قال الجمهور من السلف والخلف.
a. Wanita yang mengalami istihadhah tidak wajib mandi ketika akan melaksanakan shalat, tidak wajib mandi pada waktu tertentu, hanya wajib satu kali mandi saja, ketika haidhnya berhenti. Demikian menurut pendapat Jumhur ulama dari kalangan Salaf (terdahulu) dan Khalaf (belakangan).

ب - أنه يجب عليها الوضوء لكل صلاة، لقوله صلى الله عليه وسلم
- في رواية البخاري -: (ثم توضئي لكل صلاة).
b. Wanita yang mengalami istihadhah wajib berwudhu’ setiap kali akan melaksanakan shalat, berdasarkan ucapan Rasulullah Saw yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, Rasulullah Saw berkata kepada seorang perempuan yang mengalami istihahdh: “Kemudian berwudhu’lah engkau untuk setiap kali akan melaksanakan shalat”.

وعند مالك يستحب لها الوضوء لكل صلاة، ولا يجب إلا بحدث آخر.
Menurut Imam Malik: wanita yang mengalami istihadhah dianjurkan agar berwudhu’ setiap kali akan melaksanakan shalat. Ia tidak wajib berwudhu’ kecuali ada hadats lain.

ح - أن تغسل فرجها قبل الوضوء وتحشوه بخرقة أو قطنة دفعا للنجاسة، وتقليلا لها، فإذا لم يندفع الدم بذلك شدت مع ذلك على فرجها وتلجمت واستثفرت، ولا يجب هذا، وإنما هو الاولى.
c. Wanita yang mengalami istihadhah agar membasuh kemaluannya sebelum berwudhu’, menutupinya dengan kain atau kapas untuk menolak najis dan meminimalisir najis. Jika darah istihadhah tetap tidak berhenti dengan itu, maka diperkuat dengan kain yang diisi kapas. Ini tidak wajib. Akan tetapi lebih utama untuk dilakukan.

د - ألا تتوضأ قبل دخول وقت الصلاة عند الجمهور إذ طهارتها ضرورية، فليس لها تقديمها قبل وقت الحاجة.
d. wanita yang mengalami istihadhah tidak boleh berwudhu’ sebelum masuk waktu shalat, demikian menurut jumhur (mayoritas) ulama, karena kesuciannya dalam keadaan darurat, ia tidak boleh mendahulukannya sebelum waktu yang dibutuhkan.

ه - أنه يجوز لزوجها أن يطأها في حال جريان الدم، عند جماهير العلماء لانه لم يرد دليل بتحريم جماعها.
e. Bagi wanita yang mengalami istihadhah, suaminya boleh menggaulinya dalam keadaan darah istihadhah mengalir. Demikian menurut jumhur (mayoritas) ulama. Karena tidak ada dalil yang mengaramkan menggauli wanita yang sedang mengalami istihadhah.

قال ابن عباس: المستحاضة يأتيها زوجها إذا صلت الصلاة، أعظم رواه البخاري ليعني إذا جاز لها أن تصلي ودمها جار، وهي أعظم ما يشترط لها الطهارة، جاز جماعها.
Ibnu Abbas berkata: “Wanita yang mengalami istihadhah tetap melakukan hubungan dengan suaminya dan tetap melaksanakan shalat. Dalil yang paling kuat adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari yang maknanya: jika wanita yang mengalami istihadhah boleh melaksanakan shalat ketika darah istihadhahnya mengalir, padahal shalat itu sangat mensyaratkan kesucian, maka wanita yang mengalami istihadhah boleh melakukan hubungan suami istri.

وعن عكرمة بنت حمنة، أنها كانت مستحاضة وكان زوجها يجامعها. رواه أبو داود والبيهقي، وقال النووي: إسناده حسن.
Dari ‘Ikrimah binti Himnah, ia pernah mengalami istihadhah dan suaminya menggaulinya. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Baihaqi. Imam Nawawi berkata, “Sanadnya hasan”.

و - أن لها حكم الطاهرات: تصلي وتصوم وتعتكف وتقرأ القرآن وتمس المصحف وتحمله وتفعل كل العبادات.
وهذا مجمع عليه
f. Wanita yang mengalami istihadhah sama seperti wanita yang berada dalam keadaan suci dari haidh, ia tetap melaksanakan shalat, berpuasa, melakukan I’tikaf, membaca al-Qur’an, memegang mushaf al-Qur’an, membawa al-Qur’an dan melakukan semua ibadah.

Sumber :
1). http://shomadmarocco.blogspot.com
2).Kitab Fiqh Sunnah, Karya Syekh Sayyid Sabiq,
juz: 1, halaman: 86 – 89.

Comments

Popular posts from this blog

Manaqib Al-Marhum Guru Anan Sang Perintis Sistem Pengajian Tradisional Lendang Nangka

Sumber : Fhoto Dokumentasi Majelis  2015 1. RIWAYAT DAN SILSILAH KELUARGA USTADZ ABDUL HANNAN (GURU ANAN)           Tokoh sederhana yang tidak mau disebut sebagai Tokoh seperti ungkapan tawadlu’ beliau sering mengungkapkan : “ Tiyang mniki  Goro bukan Guru yang Istimewa  (( Dalam Bahasa Sasak :  tiyang niki goro nententen guru atau kiyai sak berilmu ) ) “ sehingga sebagian masyarakat Lendang Nangka yang memberi sebutan “ Guru Tawadlu' nan Bagus (Guru Annan Bagus)”

NASIHAT ALLAH DAN RASULULLAH: AL-QONAAH: MENGGAPAI KEHIDUPAN YANG BAHAGIA DAN MENENTERAMKAN.

ALLAH SWT BERFIRMAN: قال الله تعالى من عمل صالحا من ذكر وانثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة (سورة النحل : ٩٧) وقال كثير من المفسرين : الحياة الطيبة فى الدنيا هي القناعة. عن جابر بن عبد الله قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : القناعة كنز لا يفنى وعن ابى هريرة رضى الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كن ورعا تكن اعبد الناس وكن قانعا تكن اشكر الناس واحبب للناس ما تحب لنفسك تكن مؤمنا واحسن مجاورة من جاورك تكن مسلما واقلل الضحك فإن كثرة الضحك تميت القلب (رواه البيهقي) Maknanya: Allah swt berfirman: sesiapa saja yang beramal saleh baik laki-laki maupun perempuan sembari penuh keimanan kepada Allah swt. Maka Kami pasti memberikan kehidupan yang baik.  Kebanyakan para penafsir menafsirkan ayat ini: Kehidupan yang baik di dunia adalahAl-Qonaah: merasa tercukupkan. Dari Sahabat Jabir bin Abdullah  ra berkata telah bersabda Rasulullah saw. Al-Qonaah:sikap berterima terhadap nikmat Allah adalah perbendaharaan/simpanan yang tak kan pernah sirna. Dari Sahabat Ab...

HUKUM MENUNDA QADHA KARENA UDZUR SYAR'I

Akhina Fillah dan Jamaah bini Rohimakumullah, Dok.Majelis Mudzakarah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallama, Malam Senin Bahagia  Dalam mudzakarah Fiqh banyak Jamaah bini bertanya, " Bagaimana hukum Menunda Qadha' Karena Udzur Syar'i? "  untuk mendapatkan jawabannya, yuuk baca dan telaah bareng tulisan Ustadzah Aini Aryani, Lc. berikut ini. Seluruh fuqaha ( ulama ahli Fiqih) sepakat bahwa orang yang punya hutang qadha ’ puasa wajib (Puasa Ramadhan ), kemudian dia menunda qadha ’ nya itu sampai bertemu Ramadhan berikutnya karena ada udzur syar’i , maka ia tidak berdosa dan boleh meng-qadha’ nya sampai tiba masanya ia mampu membayar qadha ’ itu, meskipun sudah dua atau tiga Ramadhan dilaluinya. (lihat: al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah jilid 32, hal. 70 ) Udzur Syar’i disini maksudnya adalah sebab yang dibenarkan dalam syariat untuk menunda qadha’ puasa Ramadhan. Misalnya, bila kondisi wanita hamil dan menyusui masih tidak juga memungkinkannya untuk berpu...