Akhinafillah IKAMDQH39 Rohimakumullah,
"Itu adalah Berkah dari Kesalehan Orang Tuamu."
![]() |
| Sumber: Fb.Ponpes. Daarul Kamal Kembang Kerang Lotim 2021 |
Narasi itu mengawali kisah Tahun 1971, saat itu Abah Ruslan duduk di bangku kelas terakhir Muallimin NW Pancor. Jam pelajaran kelasnya sedang kosong. Almagfurlah Maulana Syekh Zainuddin Abdul Majid yang tau ada kelas siswa tidak terisi, seperti biasa, beliau memasuki kelas itu.
Di dalam kelas, tatapan beliau langsung tertuju kepada Abah Ruslan dan memintanya sebagai pembaca kitab yang akan beliau jelaskan. Menjelang kelas usai, beliau bertanya “Anta ke aran Ruslan? Tetu ke gen mek ngelanjutang sekolah aneng Mekkah?” (Kamu kah yang bernama Ruslan? Betulkah kamu akan melanjutkan belajarmu ke Mekkah)?”
“Nggih.”
(ya : Bahasa Indonesia)
“Kalau kamu di Mekkah, jangan mendaftar ke tempat lain, di sana belajarlah di Madrasah Al-Shaulatiyah." pesan beliau, "Mek pacu-pacu!”
Pesan itu nampaknya hanya pesan biasa yang diucapkan guru yang hendak melepas anak didiknya pergi ke tempat jauh. Tetapi pesan itu baru terngiang-ngiang setelah Abah Ruslan sampai di Mekkah. Ketika itu, situasi dunia pendidikan di sana tengah saling berkompetisi, seiring munculnya lembaga-lembaga pendidikan baru, beberapa di antaranya mengusung paham tertentu, madrasah-madrasah itu tampak lebih maju dan berinovasi. Bahkan beberapa teman Angkatan Abah Ruslan, berpindah ke madrasah-madrasah lain.
Tetapi dengan mematuhi pesan sang guru, Abah Ruslan bertahan di Al-Shaulatiyah mengharapkan keberkahan. Dengan tekun ia serius mengikuti pelajaran di madrasah formal tertua di Tanah Suci itu, mendapatkan nilai cemerlang setiap tahunnya. Rangking 1 dari tahun pertama sampai ke-3, sehingga tamat tepat waktu dengan posisi di rangking 4.
Tahun 1976, di majelis pengajiannya di Mushalla Al-Abror Pancor, usai mengaji, Almagfurlah memanggil salah satu santri Ma’had Darul Quran Wal Hadits (MDQH) yang berasal dari Desa Kembang Kerang Daya bernama Abdullah (sekarang dikenal dengan Guru Nir). Almagfurlah menanyakan Guru Nir tentang kabar Abah Ruslan yang saat itu masih berada di Mekkah, “Bagaima cerita temanmu Lok Ruslan?”
![]() |
| Dari Kanan Tgh.Muhammad Ruslan Zaen An Nahdhi dan Drs Tgh.Hamzah, SH., Al-Ma'hady |
“Tiang kurang tau, Syekh. Tapi setau tiang, minggu ini bapaknya baru menerima surat darinya dari Mekkah.”
“Kalau begitu coba minta izin kepada bapaknya untuk membawakan suratnya kemari untuk saya baca.”
Abdullah esok harinya membawakan surat dari Mekkah yang dimaksud. Kebetulan isi surat itu adalah keputusan final Abah Ruslan yang diambil setelah perdebatan dengan ayahnya, Haji Zainuddin.
Setelah lulus dari Al-Shaulatiyah, Haji Zainuddin meminta putra yang satu-satunya lelaki itu untuk melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar Mesir. Alasannya agar putranya bisa menggondol titel, jadi pegawai dan dosen. Tetapi Abah Ruslan menolak. Karena menurutnya, langsung kembali ke Tanah Air adalah langkah terbaik untuk kondisi saat itu. Abah Ruslan ingin seperti guru-guru panutannya, Almagfurlah Syekh Zainuddin, Syekh Ismail Usman Zain, Syekh Abdullah Allahji dan guru-guru lainnya yang belajar tanpa mendapatkan gelar.
Dalam surat yang sampai di tangan Almagfurlah itu, tertuliskan bersikerasnya seorang anak menyatakan keputusan kepada ayahnya “Apabila bapak tidak mau mengirimkan biaya untuk tiket kepulangan, biarkan saya pulang dengan berenang saja di lautan,” katanya, merespon Ayahnya yang sempat mengancam tidak akan mengirimkan biaya kepulangan.
Setelah membaca surat tersebut, Almagfurlah meminta Guru Nir untuk memanggil H. Zainuddin menemui beliau. Sebagai yang memiliki pandangan, Almagfurlah meminta H. Zainuddin merestui kepulangan anaknya. “Dan nanti kalau dia sudah sampai di Lombok, suruh dia untuk datang kemari menemuiku!”
Seperti masyarakat Lombok lainnya, khususnya warga NW, Al-magfurlah adalah Mursyid yang sangat dihormati dan selalu didengar kata-katanya di kala hayatnya. Khusus bagi Haji Zainuddin (yang memang rutin menghadiri pengajian mingguan Hari Jumat di Musolla Al-Abror, berangkat subuh-subuh sendiri menembus kedinginan, sehingga terjadi jalinan hubungan yang sangat baik), arahan Al-magfurlah adalah titah yang harus ditaati. Hatinyapun luluh merestui kepulangan anaknya.
Abah Ruslan sampai di Lombok dengan selamat. Pada suatu hari, ketika Haji Zainuddin sedang mengupas kelapa di halaman rumahnya mengenakan kaos oblong, tiba-tiba sebuah mobil sedan datang dan parkir di tepi jalan depan rumahnya. Zaman itu mobil masih menjadi pemandangan langka, sehingga kedatangan Sedan itu menimbulkan kehebohan kampung.
Setelah mengetahui yang mengendarai sedan itu tak lain adalah Almagfurlah, Haji Zainuddin kaget dan buru-buru berniat memperbaiki penampilannya menyambut tamu yang sangat istimewa. “Biasa saja, Tuan Haji. Saya tidak mau lama di sini.” Kata Almagfurlah yang sudah menganggapnya sebagai murid dekat.
“Saya hanya ingin datang menemui Ruslan. Juga meneruskan pesan sebelumnya agar dia datang menemui saya di Abror, di hari sekian jam sekian.” Beliau lalu pergi.
Pada hari dan jam yang ditentukan, Abah Ruslan datang memenuhi undangan itu, tidak tau apa yang akan terjadi. Dijumpainya di Al-Abror para Masyaikhul MDQH telah duduk berjejer rapi. Seorang Masyaikh yang menjadi khadim Al-magfurlah menyambut kedatangan Abah Ruslan, “Ada perlu apa dengan beliau, dek?”
“Saya hanya ingin berziarah dengan beliau.”
“Oh, begitu. Jadi begini, dek. Sekarang di sini mau ada pertemuan penting antar beliau dengan Masyaikh Ma’had. Kami menunggu beliau keluar untuk langsung dimulai pertemuan itu. Jadi nanti, begitu beliau keluar, seperti katamu untuk berziarah, cukup bersalaman dan jangan lama-lama ya.” Demikian arahan sang khadim demi ketertiban rapat yang akan digelar.
“Oh nggih.” Abah Ruslan manut dan sedikit merasa merasa datang pada waktu yang kurang tepat.
Tidak lama kemudian Al-Magfurlah keluar. Abah Ruslan langsung merangsek maju menyalami beliau agar tidak larut mengganggu pertemuan. Al-magfurlah langsung menyambut dengan memberi pengumuman kepada hadirin yang ada.
“Dalam pertemuan ini, saya ingin mengumumkan, ini adalah Haji Ruslan. Dia baru kembali dari Mekkah belajar di Madrasah Al-Shaulatiyah. Dan insyaAllah akan bergabung menjadi Masyaikhul Ma’had mulai tahun ajaran baru ini.”
Kaget bukan kepalang mendengar pengumuman yang tak terduga-duga itu.
“Ta.. tapi.. Maaf Tuan Guru. Tiang tidak bisa mengajar. Tidak ada ilmu dan tidak ada bakat.” Ujar Abah Ruslan sambil gemetar.
“Kamu tau bagaimana bentuk alif?” (Tanya Al Magfurullahu Maulana Syaikh)
“Kalau sekedar alif tiang tau, Tuan Guru.”
“Kalau begitu, cukup itu yang kamu ajarkan kepada murid-muridmu nanti.”
Sejak saat itu, resmilah Abah Ruslan terdaftar menjadi dewan pengajar di MDQH melalui penunjukan langsung dari Almagfurlah. Karena memang merasa kurang ilmu dan bakat dalam mengajar, Abah Ruslan membayar kepercayaan Almagfurulah dengan lebih sering menempatkan dirinya sebagai khadim, seperti mengatur tempat duduk setiap ada acara, merapikan sendal dan khidmah-khidmah lainnya.
Menjadi pengajar di MDQH di masa Almagfurlah adalah sebuah kehormatan besar. Abah Ruslan sering merasa tidak pantas untuk mendapatkan kehormatan itu, apalagi diberikan kepercayaan akan posisi penting di sana.
Almagfurlah pernah memecahkan keheranan itu, mengungkapkan sir (rahasia)pemilihan itu dengan mengatakan, :
“Ini adalah berkah doa dari orang tuamu, entah orang tuamu yang mana. Entah itu ayahmu, kakekmu, cicitmu dan seterusnya.”
Statement Almagfurlah menyiratkan pelajaran, keberkahan belajar, beramal dan berkhidmat bisa jadi tidak didapatkan hasil kontannya oleh pelakunya langsung di masa hidupnya. Tetapi bisa jadi Allah simpankan untuk kebaikan anak cucunya kelak. Sebagaimana kata hikmah:
صلاح الأبناء بصلاح الآباء
“Kesalihan atau kebaikan seorang anak adalah berkah daripada kesalehan orang-orang tuanya.”
Dalam ayat di Surat Al-Kahfi yang menceritakan ungkapan Khidir kepada Nabi Musa menjelaskan alasan kenapa ia merenovasi sebuah tembok milik dua orang anak yatim, karena di bawah tanahnya tertimbun warisan peninggalan berupa kitab-kitab dan harta.
وكان أبوهما صالحا
“Orang tua mereka dulu adalah orang saleh.”
Menurut mufassir, di antaranya Imam Al-Thabari, orang tua yang dimaksud adalah kakek yang ketujuh dari anak yatim itu. Maka Allah ingin sampaikan kepada mereka warisan timbunan itu sebagai bekal mereka belajar untuk menjadi orang berilmu.
Sumber:
facebook.com/ Pondok Pesantren Daarul Kamal


Comments