Skip to main content

Bagaimanakah yang Lebih Utama dalam Ilmu Nahwu : " Al-kalam atau Al-Kalimah?

 Majelis Al-Hannan.Blogspot.Com. Dilansir pada 30/09/2022 dalam Pena Azhary kenapa Para pakar Nahwu mengawali "Al-Kalam" Atau "Al-Kalimah" dalam setiap karya Ilmiahnya.Bagaimana telaah pembahasannya? yuuk kita telaah bareng...


Sering kita jumpai dalam awal pembahasan Ilmu nahwu, ada ulama yang memulai dengan pembahasan (الكلام), seperti di dalam al-Ajurrumiyah, Alfiyyah ibn Malik, Alfiyyah ibnu Mu'ti, Ibnu Hisyam dalam Audhahul Masalik  (قيل لأنه شارح لألفية ابن مالك). 


Akan tetapi ada juga yang memulai dengan (الكلمة), seperti Ibnu Hisyam dalam Qathrun Nada dan Syudzuru Dzahb, demikian Ibnu al-Hajib dalam Kafiyah, & Sibawaih dalam al-Kitab.


Namun sebenarnya mereka tidak berbeda pendapat dalam hal tersebut, yang menjadi letak perbedan di antara mereka adalah mana yang lebih baik didahulukan dalam pembahasan ilmu nahwu  الكلام atau الكلمة ?


Mereka yang mendahulukan الكلمة terhadap الكلام berpendapat bahwasannya:


الكلمة جزءٌ من للكلام، والجزءُ مقدَّمٌ على الكلِّ طبعًا، فينبغي أن يُقدَّمَ وضعًا.


Pengertian at-Taqqaddum  Tab'an:


المقدَّم يحتاج اليه المؤخَّرُ دون علة فيه، نحو: واحد إثنان ...


Bukan secara at-Taqaddum  'Illatan: 


المقدم يحتاج اليه المؤخر بعلة فيه، نحو: حركة الختم تابع لحركة الإصبع.


Adapun mreka yang mendahulukan (الكلام) terhadap (الكلمة) berpendapat bahwasannya:


الكلام مقصود بالذات، بالنظر الى الكلمة؛ لأن التفاهم يقع به.


al-Kalam dilihat secara esensinya  adalah susunan dari al-kalimat yang bertujuan  

adanya pemahaman yang sempurna. Tujuan Kalam agar tersampaikan makna nya. Berbeda dengan al-kalimat yang jika sendiri tidak bisa memiliki makna yang sempurna ; dengan alasan ini, mereka mendahulukan الكلام daripada الكلمة.


Lantas dalam al-Ajurrumiyah al-Imam as-Shanhaji  mengawali kitabnya dengan pembahasan الكلام dan tidak menyebutkan الكلمة secara dzohir. 


Para ulama berpendapat bahwasanya الكلمة tersirat dalam ucapan Mushannif  yaitu (وأقسامه). Dhamir الهاء yang kembali kepada الكلام bisa diuraikan dengan 2 penafsiran:


1. al-Kalam (الكلام الاصطلاحي) yang berma'na secara istilah ilmu nahwu, yaitu:


الكلام هو اللفظ المركب المفيد بالوضع.


2. al-Kalam (الكلام) yang berma'na (الكلمة).


Dalam tafsiran yang pertama jika ( الكلام ) berma'na sesuai dengan  ilmu nahwu, maka pembagian ini dinamakan dengan (تقسيم الكلِّ إلى أجزائه)

Pengertiannya:


لا يتأتَّى أن تجعل كل قسمٍ خبرًا عن المَقْسِم.


Sesuai dengan yang ada dalam al-Ajurrumiyah, yakni setiap bagian dari isim ,fi'il dan huruf (قسم) tidak bisa menjadi khabar untuk (الكلام/المقسم), karena akan terjadi pertentangan antara mubtada dan khabar. 


Karena, misalkan dalam isim, syaratnya adalah (قول مفرد) alias tidak tersusun. oleh karna itu, tidak bisa dijadikan khabar untuk al-kalam al-istilahi. Yang mana dia menuntut adanya (المركب), harus tersusun dari kalimat.

Demikian juga fi'il dan huruf.


Dalam tafsiran yang ke 2, jika al-Kalam (الكلام) bermakna (الكلمة), maka pembagian ini dinamakan ( تقسيم الكلي إلى جزئياته).


Pengertiannya : 


بحيث يتأتي أن تجعل كل قسم خبرا عن المقسم.


Semisal di al-Ajurrumiyah setiap dari isim, fi'il, dan huruf (قسم) bisa menjadi khabar bagi kalam yang berma'na (الكلمة). Hal ini dikarenakan di antara mubtada dan khabar tidak ada kontradiksi, seolah mushannif mengatakan (وأقسامه) maksudnya adalah (وأقسام الكلمة اسم وفعل وحرف جاء لمعنى)


Tafsiran ke 2 ini menggunakan metode yang dalam Ilmu Badi' (yang merupakan dzail bagi ilmay al-Balaghah) dinamakan sebagai (الاستخدام), yaitu:


ذكر لفظ مشترك بين معنيين، يُراد به أحدهما، ثم يُعاد عليه ضمير أو إشارة بمعناه الآخر.


Seperti perkataan penyair Muawiyah bin Malik:


إذا نزل السماء بأرض قوم

رعيناه وإن كانوا غضابا


أراد بالسماء «المطر»، وبضميره في «رعيناه» «النَّبات» وكلاهما معنًى مجازيٌّ للسماء.


Dan ini juga tafsiran yang lebih rojih dari yang pertama karena banyaknya syahid dalam bahasa arab.


Selain itu juga, kita dapati Imam Sibawaih dalam al-Kitab nya yang digelari "Qur'an Nahwu" dalam sejumlah tempat juga, menyebutkan kata الكلام dengan maksud makna الكلمة. Yang menguatkan kita untuk mentafsirkan ibarat وأقسامه dari Ibnu Ajurrum sebagai وأقسام الكلام بمعنى الكلمة. 


Wallahu A'lam.


Faidah Dars Hasyiah Abi an-Naja bersama Syaikh Fauzi Konate. 

نفعنا الله بعلومه آمين


Dari catatan pribadi yang sudah di edit oleh Faqih Ubaidillah Rozan. 

Jumat, 30 September 2022

Mokattam

Comments

Popular posts from this blog

Refleksi Pemikiran cerdas Prof.Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, MA untuk NTB

Bismillahirrohmaanirrohiim, Ikhwanufillah…. Intergrasi berzikir, fikir dan ikhtiar dalam bentuk karya merupakan refleksi bangkit dan terlahirnya 61 Provinsi NTB. Hal inilah kanda Prof. Dr.TGH. Fahrurrozi, MA dalam tulisannya di akun FBnya dengan diksi-diksi yang menarik dengan literasi mendalam beliau menukilkan dalam judul aslinya… BANGGA MENJADI WARGA NTB: “Jika” NTB BERZIKIR, NTB BERPIKIR, NTB MENGUKIR: REFLEKSI 61 TAHUN NTB LAHIR sumber gambar :  https://www.google.com/search?q=Gambar+Peta+NTB&newwindow=1&safe=strict&rlz=1C1CHBF_enID840ID840&sxsrf=ACYBGNRE8lH68GlxSMtTSgjf_ O5JV5jIOA:1576601741530&tbm=isch&source=iu&ictx=1&fir=di97UKuqlocxUM%253A%252ChTyXExZWSt5PpM%252C_&vet=1&usg=AI4_-kQWLMOKYDJ6av-qM1bq77XVSYxo5Q&sa=X&ved=2ahUKEwji-oWWk73mAhVEX30KHRuxDrUQ9QEwCXoECAoQFg#imgrc=di97UKuqlocxUM: dalam tulisannya beliau melanjutkan  ……            ...

Manaqib Al-Marhum Guru Anan Sang Perintis Sistem Pengajian Tradisional Lendang Nangka

Sumber : Fhoto Dokumentasi Majelis  2015 1. RIWAYAT DAN SILSILAH KELUARGA USTADZ ABDUL HANNAN (GURU ANAN)           Tokoh sederhana yang tidak mau disebut sebagai Tokoh seperti ungkapan tawadlu’ beliau sering mengungkapkan : “ Tiyang mniki  Goro bukan Guru yang Istimewa  (( Dalam Bahasa Sasak :  tiyang niki goro nententen guru atau kiyai sak berilmu ) ) “ sehingga sebagian masyarakat Lendang Nangka yang memberi sebutan “ Guru Tawadlu' nan Bagus (Guru Annan Bagus)”

NASIHAT SYAIKH AHMAD SYIHABUDDIN BIN SALAMAH ALQALYUBY: LIMA TERSEMBUNYI DALAM LIMA HAL

Ikhwanufillah.... Majelis Alhannan kali ini berbagi tentang Nasehat dan telaah berkitab dari Prof. Dr.TGH. Fahrurrozi, MA, beliau mengutip dalan tulisannya : إعلم أن الله تعالى أخفى خمسة أشياء فى خمسة أشياء: ١-أخفى رضاه فى طاعة من الطاعات ليجتهد الناس فى جميع الطاعات رجاء ان يصادفوها. ٢-وأخفى سخطه فى معصية من المعاصى ليجتنبها الناس كلما خشية الوقوع فيه ٣-وأخفى ليلة القدر فى رمضان ليجتهد الناس فى إحياء لياليه أن يصادفوها ٤-وأخفى اسمه الاعظم فى جميع اسماءه ليجتهد الناس فى الدعاء بجميعها رجاء ان يصادفوه. ٥-وأخفى أولياءه فى جميع خلقه حتى لا يحتقروا احدا منهم ويطلبون الدعاء منهم رجاء ان يصادفوه بحصول بركته بدعاءه. (نقلت من كتاب النوادر تأليف احمد شهاب الدين بن سلامة القليوبى ص:١١٩) (وأخفى صلاة الوسطى من بين سائر الصلوات، ليجتهد العبد في المحافظة على الصلوات، كما قال سيدنا عمر بن الخطاب رضي الله عنه وأخفي الأجل من بين العمر، ليستعد الناس له) Ketahuilah sesungguhnya Allah merahasiakan lima hal dalam lima hal: Pertama: Allah swt merahasiakan redhaNya dalam berbuat ketaataan de...