Akhina fillah Rohimakumullah,
Tema kali ini menarik hikmah kemuliaan Baginda Nabi Besar Muhammad Shalallahu 'alaihi Wasallama, betapa tidak begitu
dahsyat berkelas beliau baginda Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi Wasallama, melahirkan generasi ummat berkelas yang seandainya di buka pintu kenabian, banyak ummatnya para ulama' auliya Allah yang menjadi nabi sekelas Nabi terdahulu.
Bagaimana narasi ini bisa dimunculkan?
Dilansir dalam GT Pena Azhary, 09/10/2022 mengungkapkan, Para ulama sepakat bahwa kelak di akhir zaman, salah satu nabi 'ulul azmi akan turun ke bumi untuk memimpin kaum muslimin membunuh Dajjal dan pengikutnya. Dialah 'Isa putra Maryam 'alaihimas salam.
Beliau kelak termasuk dari ummat Nabi Muhammad dan menjalankan syariat Nabi Muhammad Saw.
Dalam banyak hadits, Nabi Saw menceritakan bahwa nabi 'Isa- nanti ketika akan sholat berjamah ditawarkan agar menjadi imam sholat, tapi beliau menolak dan mempersilakan imam ratib tetap menjadi imam, beliau akan menjadi makmum, sebagai bentuk pemuliaan Allah atas ummat baginda Nabi Saw.
Dalam Shahih Muslim Nabi Saw. bersabda,
"فينزل عيسى ابن مريم عليه السلام، فيقول أميرهم : تعالى صل لنا، فيقول : لا، إن بعضكم على بعض أمراء تكرمة الله هذه الأمة" (رواه مسلم)
Dalam Musnad Imam Ahmad, Nabi Saw. bersabda,
"فإذا بعيسى فيقول : تقدم، فيقول : ليتقدم إمامكم فليصل بكم". (رواه أحمد)
Dan, perlu kita perhatikan bahwa Nabi 'Isa alaihis salam kelak ketika turun ke bumi, beliau tetap menjadi nabi dan rasul, alias sifat kenabian dan kerasulan beliau tidak hilang walaupun menjadi ummat Nabi Muhammad Saw.
Sayyid Muhammad bin 'Alawi Al Maliki dalam kitab beliau (خصائص الأمة المحمدية) menegaskan,
...وهو وإن كان واحدا من أفرادها ومن أتباع نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، إلا أنه رسول ونبي كريم، لا كما يظن بعض الناس أنه يأتي واحدا من هذه الأمة بدون نبوة ورسالة، ويجهل أنهما لا تزولان بالموت، فكيف بمن هو حي..
[خصائص الأمة المحمدية، ٣٣]
"Dan beliau ('Isa bin Maryam) walaupun termasuk dari bagian ummat dan pengikut Nabi Muhammad Saw, tetapi beliau tetap menjadi nabi dan rasul yg mulia, tidak seperti sangkaan sebagian orang yg mengatakan bahwa beliau turun tidak menjadi nabi dan rasul, mereka tidak tahu bahwa sifat kenabian dan kerasulan dari seorang nabi itu tidak hilang dengan kematian, lebih-lebih jika nabi tersebut masih hidup"
Di akhir bab, Sayyid Muhammad mengakhiri dengan mengatakan,
"وليس في الرسل من يتبعه رسول عاملا بشريعته تاركا للشرع الذي أوحي به، إلا نبينا صلى الله عليه وسلم، لأنه نبي الأنبياء"
"Tidak ada satu rasul pun yang pengikutnya adalah rasul, yg ia menjalankan syariat rasul yg diikutinya dan meninggalkan syariat yg diturunkan kepadanya, kecuali Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, karena beliau adalah Nabinya para Nabi"
Tambahan dari penulis, untuk menambah literasi Hujjah ayat Suci Al Qur'an, coba kita renungi ayat berikut:
{وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ (81) فَمَنْ تَوَلَّى بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (82) }
Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya." Allah berfirman, "Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu." Mereka menjawab, "Kami mengakui." Allah berfirman, "Kalau begitu, saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian." Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
Ibnu Katsir menjelaskan :
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitakan bahwa Dia telah mengambil janji dari setiap nabi yang diutus-Nya sejak dari Adam 'alaihissalam hingga Isa 'alaihissalam, manakala Allah memberikan kepada seseorang di antara mereka kitab dan hikmah, lalu ia menyampaikannya kepada manusia di masanya. Kemudian datanglah seorang rasul lain sesudahnya, maka ia benar-benar akan beriman kepada rasul yang baru ini dan membantunya, dan ilmu serta kenabian yang telah disandangnya tidak boleh menjadi penghalang baginya untuk mengikuti rasul yang baru dan membantunya. Untuk itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
{وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ}
Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah." (Ali Imran: 81),
Yakni betapapun Aku telah memberikan kepada kalian kitab dan hikmah.
{ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي}
"Kemudian datang kepada kalian seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya." Allah berfirman, "Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" (Ali Imran: 81)
Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Ar-Rabi' ibnu Anas, Qatadah, dan As-Saddi, makna isri ialah perjanjian-Ku.
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa isri artinya beban yang kalian pikul dari janji-Ku, yakni ikrar kalian kepada-Ku yang berat lagi dikukuhkan.
{قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ. فَمَنْ تَوَلَّى بَعْدَ ذَلِكَ}
Mereka menjawab, "Kami mengakui." Allah berfirman, "Kalau begitu, saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian." Barang siapa yang berpaling sesudah itu. (Ali Imran: 81-82)
Yaitu berpaling dari ikrar dan janji ini.
{فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ}
maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (Ali Imran: 82)
Ali ibnu Abu Talib dan anak lelaki pamannya (yaitu Ibnu Abbas), keduanya mengatakan bahwa tidak sekali-kali Allah mengutus seorang nabi melainkan mengambil sumpah terlebih dahulu terhadapnya, yang isinya mengatakan bahwa sekiranya Allah mengutus Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam, sedangkan dia masih hidup, maka sungguh dia harus beriman kepadanya dan menolongnya. Allah memerintahkan kepadanya agar dia mengambil janji yang sama terhadap umatnya, yaitu "Sungguh, jika Nabi Muhammad diutus, sedangkan mereka masih hidup, maka mereka harus benar-benar beriman kepadanya dan benar-benar menolongnya."
Dalam Tafsir Thobari, Ibnu 'Abbas menafsiri Ayat 81 Surah Ali Imron mengatakan, :
"ما بعث الله نبيًا إلاَّ أخذ عليه الميثاق: لئن بُعث محمد وهو حيّ ليؤمنن به ولينصرنَّه، وأمره أن يأخذ الميثاق على أمته: لئن بُعت محمد وهم أحياء ليؤمننَّ به ولينصرنَّه"
"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali Allah membuat perjanjian padanya dan ummatnya, bahwa jika Nabi Muhammad Saw diutus dan saat itu nabi tersebut beserta ummatnya masih hidup, untuk mengimani Nabi Muhammad dan menolongnya"
Imam Suyuthi dalam kitab beliau Al Hawi
di pembahasan Nubuwwat menukil perkataan Imam Subki,
"فالنبي صلى الله عليه وسلم هو نبي الأنبياء، ولو اتفق مجيئه في زمن آدم ونوح وإبراهيم وموسى وعيسى وجب عليهم وعلى أممهم الإيمان به ونصرته"
"Nabi Muhammad Saw adalah nabinya para nabi, jikalau kedatangan beliau bertepatan pada zaman nabi Adam, Ibrohim, Musa, atau Isa maka wajib bagi mereka dan bagi ummatnya untuk beriman kepada Nabi Muhammad dan menolongnya".
Ini juga yg Nabi dahulu sempat katakan, jika saat ini Nabi Musa masih hidup, maka ia pasti akan mengikutiku.
Betapa agung kedudukan baginda Nabi Muhammad Saw..
Di hari yg mulia ini, kita usahakan untuk selalu mengingat Nabi dan bersholawat kepadanya. Semoga kelak kita dikumpulkan dengan beliau, para nabi, dan sholihin.
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.
والله اعلم با الصواب
Sumber :
Tafsir Ibnu Katsir QS.Al-Imran ayat 81-82
Laman Pena Azhary

Comments