Akhina Fillah Rohimakumullah..
BAGAIMANA MEMAHAMI HAKIKAT SEORANG GURU PENDIDIK ?
Sahabat yang budiman. Perbedaan antara mudarris, muallim, muaddib, musyrif, murabbi dan mursyid. Dalam tulisan ini kita akan jelaskan posisi ustadz yang sebenarnya (insya Allah), agar kita semua tidak salah paham. Secara umum, ustadz itu diartikan sebagai guru atau pendidik. Ini adalah pengertian dasarnya.
Guru dalam khazanah Arab atau Islam, memiliki banyak istilah yang berbeda-beda, yaitu: mudarris, mu’allim, muaddib, musyrif, murabbi, mursyid, dan termasuk Ustadz. Masing-masing istilah memiliki makna tersendiri. Agar lebih jelasnya mari kita sama-sama perhatian uraian singkat berikut ini:
Pertama: [ Mudarris ] artinya guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang menyampaikan dirasah atau pelajaran. Siapa saja yang menyampaikan pelajaran di hadapan murid-murid, dia adalah Mudarris.
Kedua: [ Mu’allim ] artinya guru juga, tetapi lebih spesifik: Orang yang berusaha menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya mereka belum tahu. Tugas Mu’allim itu melakukan transformasi pengetahuan, sehingga muridnya menjadi tahu.
Ketiga: [ Muaddib ] atau Musyrif, artinya juga guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang mengajarkan adab (etika dan moral), sehingga murid-muridnya menjadi lebih beradab atau mulia (syarif). Penekanannya lebih pada pendidikan akhlak, atau pendidikan karakter mulia.
Keempat: [ Murabbi ] artinya sama, yaitu guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang mendidik manusia sedemikian rupa, dengan ilmu dan akhlak, agar menjadi lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih berdaya.
Orientasinya memperbaiki kualitas kepribadian murid-muridnya, melalui proses belajar-mengajar secara intens. Murabbi itu bisa diumpamakan seperti petani yang menanam benih, memelihara tanaman baik-baik, sampai memetik hasilnya.
![]() |
| Maulana Syaikh TGKH.Muhammad Zaenuddin Muda |
Kelima: [ Mursyid ] artinya juga guru, tetapi skalanya lebih luas dari Murabbi. Kalau Murabbi cenderung privasi, terbatas jumlah muridnya, maka Musyrid lebih luas dari itu. Mursyid dalam terminologi shufi bisa memiliki sangat banyak murid-murid.
Baru kita masuk pengertian Ustadz. Secara dasar, ustadz memang artinya guru. Tetapi guru yang istimewa. Ia adalah seorang Mudarris, karena mengajarkan pelajaran. Ia seorang Mu’addib, karena juga mendidik manusia agar lebih beradab (berakhlak).
Dia seorang Mu’allim, karena bertanggung-jawab melalukan transformasi ilmiah (menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya tidak tahu). Dan dia sekaligus seorang Murabbi, yaitu pendidik yang komplit. Jadi, seorang ustadz itu memiliki kapasitas ilmu, akhlak, terlibat dalam proses pembinaan, serta keteladanan.
Dalam istilah Arab modern, kalau Anda menemukan ada istilah "Al-Ustadz Ad-Duktur" di depan nama seseorang, itu sama dengan "Profesor Doktor". Jadi Al-Ustadz itu sebenarnya padanan untuk Profesor. Kalau tidak percaya, coba tanyakan kepada para ahli-ahli Islam atau para mahasiswa-mahasiswi yang pernah atau sedang kuliah di Timur Tengah, apa pengertian "Al-Ustadz Ad-Duktur?" yang sebenarnya.
![]() |
| Assyaikh Al Ustadz Prof.Dr.Yusuf Al Qardawy |
![]() |
| Ustadz Abdul Rahman, QH , S.Pd.I., M.Pd |
Sejujurnya, istilah Ustaz itu dalam tataran ilmu, berada satu tingkat di bawah istilah Ulama atau Syaikh. Kalau seseorang disebut Ustadz, dia itu sebenarnya ulama atau mendekati derajat ulama. Contoh, seperti sebutan Ustadz Abdul Shomad (UAS), Ustadz Adi Hidayat (UAH), Ustadz Muhammad Zainul Majdi (TGB) dan lain-lain.
Nah, hal seperti ini perlu dijelaskan, agar kita tahu dan memaklumi. Istilah Ustadz itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Di dalamnya terkandung makna ilmu, pengajaran, akhlak, dan keteladanan. Kalau kemudian di Indonesia, istilah Ustadz sangat murah meriah, atau diobral gratis. Ya itu karena kita saja yang tidak tahu.
Ke depan, jangan mudah-mudah menyebut atau memberi gelar ustadz, kalau memang yang bersangkutan tidak pada proporsinya untuk menerima hal itu, apalagi lebih tinggi dari gelar ustadz tersebut. Sebagai alternatif, orang-orang yang terlibat dalam dakwah Islam bisa disebut sebagai: Dai (pendakwah), muballigh (penyampai risalah), khatib (orator), ‘alim (orang berilmu), dan yang semisal itu.
Adapun istilah Ustadz Milenial, Ustadz Selebritis, Ustadz Gaul, Ustadz Entertainis, Ustadz Komersil, Ustadz Panggung dan lain-lain; semua ini tidak benar, ia bukan peristilahan yang tepat. Karena sekali lagi, derajat Ustadz itu dekat dengan ulama. Itu harus kita ketahui bersama dan kita catat baik-baik supaya tidak mudah lupa. he he he.
Catatan: Tapi, kalau kita berada di Indonesia dan saling memanggil dengan panggilan 'ustadz' menurut al-faqir itu tidaklah mengapa. Karena; Pertama: kita bukan orang Timur Tengah. Kedua: kita tidak sedang di Timur Tengah. Ketiga: kita niatkan panggilan itu sebagai doa yang Insyaa Allah dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala.
Dan juga agar kita dapat meraih gelar tersebut sebagai sebuah cita-cita luar biasa. Karena hal itu menunjukkan bahwa kita bersemangat untuk terus belajar dan menuntut ilmu ke jenjang pendidikan yang setinggi-tingginya, agar supaya nanti kita bisa pergunakannya dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan ummat. Karena jika kita sudah punya gelar pendidikan tinggi, kita dapat dengan mudah menyalurkan kebaikan untuk orang lain.
Al-'Aalimul 'Allaamah Al-'Aarifu Billahi Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Rohmatal abror ngendikan dalam buku Wasiat Renungan Masa:
ִִִ❝Tuntutlah ilmu sebanyak mungkin, Sampai mendapat gelar muflihin, Gelar dunia perlu dijalin, Dengan ajaran Robbul 'Aalamiin❞
Mari, kita juga sama-sama perhatikan apa yang disampaikan oleh Al-Imam Sayyidina Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu:
(الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، الْعِلْمُ يَحْرُسُكَ، وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ، الْعِلْمُ يَزْكُو عَلَى الْعَمَلِ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ... وَالْعُلَمَاءُ بَاقُونَ مَا بَقِيَ الدَّهْرُ، أَعْيَانُهُمْ مَفْقُودَةٌ، وَأَمْثَالُهُمْ فِي الْقُلُوبِ مَوْجُودَةٌ)
"Ilmu lebih baik dari harta. Ilmu itu menjaga dirimu, sedangkan kamu menjaga harta, dan ilmu bertambah jika diajarkan, sedangkan harta berkurang jika dibelanjakan dan para ulama akan hidup selamanya meski raganya tidak ada, dan ajarannya selalu dikenang di dalam hati."
----------
Sumber:
Pena Azhari Egypt, 20 September 2022 M
Kitab al-Hilyah al-Auliya
![]() |
| Al-Ustadz Prof.Dr.TGH.Fahrurrozi Dahlan, QH., MA |





Comments